Gara-gara Nitecore MT1C vs battery RC123

June 10, 2013

Bermula dari mendaratnya flashlight Nitecore MT1C dari alatselam.com, dengan kelengkapan diluar dugaan. Nitecore MT1C hanya dibekali sebuah tali dan ring karet/spare O-ring (1 buah), tanpa ada perlengkapan user manual, Clip, lanyard, dan spare plastic cap😦. Sungguh sangat disayangkan, flashlight Nitecore MT1C diterima dalam keadaan gelap gulita, tidak ada sampel baterai😀 dan petunjuk.
Akhirnya dengan becarian di web nitecore, dapatlah user manualnya. Dalam user manual nitecore MT1C perlu dipacu dengan battery Primary Lithium battery CR123 3,0 V dan ditekannkan kalau Rechargeable Lithium battery RCR123 3,7 V dilarang digunakan (banned). Baterai jenis ini sangat jarang ditemui, kecuali di toko kamera, dan itupun berdasar pengalaman tidak semua toko kamera ada. Dari hasil beberapa googling ada pembedaan baterai RC123 dalam 3 macam, yaitu pada voltase 3,0 V; 3,6 V; dan 3,7 V. Dalam beberapa forum disebutkan voltase baterai sangat mempengaruhi life time dari driver flashlight itu sendiri,pemberian voltase yang lebih tinggi dari spec yang disarankan (walau mungkin bisa nyala) akan memperkosa drivernya. Dan disayangkan pada saat itu di  alatselam.com belum ada baterai RCR123 3,0 V beserta charger yang cocok dengan voltase 3,0 V (yang ada lebih tinggi untuk 3,7V)😦.
Dan akhirnya lagi harus becarian dengan google ditempat lain untuk dapur pacu Nitecore MT1C. Terimaksih telah mendarat baterai Rechargeable CR123A 3,0V  Ultrafire 800 mAh + charger Ultrafire WF-138 Switching Charger 3,0 V atau 3,6 V produkimport.com
rc123


Pendekatan perhitungan kebutuhan uap pemanas di vacuum pan

February 3, 2011

Ada beberapa macam cara untuk menentukan kebutuhan uap pemanas yang diperlukan dalam masakan (vacuum pan). Antara lain sebagai berikut:

  1. Melihat steam rate langsung (bila pabrik sudah otomatis) J
  2. Mendekati dengan perhitungan dengan neraca massa dan energy, dan cara ini banyak di uraikan pada beberapa lireratur (hugot dkk)

Karena keterbatasan peralatan, penulis ingin mengetahui kebutuhan uap saat proses kristalisasi di masakan dengan menggunakan metode yang kedua yaitu pendekatan neraca massa dan neraca energy. Adapun pendekatan ini dilakukan dengan berdasar pada:

  1. Penyesuaian system masak yang biasa dijalankan, penulis belum mendapatkan literature yang menjelaskan kebutuhan uap secara detail per masakan sehingga perlu didiskusikan hasilnya nantinya.
  2. Kesepakatan umum dalam penentuan kemurnian masakan dan penarikan bahan dengan pendekatan :

    (Volume bahan x HK bahan)input = (Volume bahan x HK bahan)output/produk

    Kesepakatan ini untuk digunakan sebagai proporsi bahan untuk neraca massa nantinya, penulis menerjemahkan

    neraca massa = neraca brix

  3. Pendekatan Brix terhadap volume (bulletin 11)
  4. Neraca massa (brix) dengan kuanta bahan pengisi masakan proporsional berdasar (2)
  5. Neraca energy

    H + Ek + Ep = Q + Ws

    Asumsi Energi kinetic ( Ek), Energi Potensial ( EP), Panas yang mempengaruhi (Q), dan Kerja yang mempengaruhi (Ws) dianggap tidak ada (0)

    H = 0

    m.pengisi x cp x T + ms x = muap x Hv

Untuk link download excelnnya dapat di cek di sini

Pendekatan ini ditujukan untuk didiskusikan, bila ada yang punya data real operasioanal kebutuhan uap (pada pabrik yang sudah otomatis) bisa sebagai penyempurna lagi.

 

Readme.txt

  1. Pengisian data analisa

    Bahan klare SHS (KL SHS), Nira kental (NK), Stroop A (ST A), Stroop C (ST C), Klare D (KL D)

    Bibitan magma C (MC), Magma D2 (MD2), Masakan A3 (MAS A3), Masakan A2 (MAS A2), Masakan D3 (MAS D3), Masakan D2 (MAS D2)

    Produk masakan A (MAS A), Masakan C (MAS C), Masakan D (MAS D)

  2. Pemilihan bibitan, bahan pengisi, dan masakan yang dibuat dengan menginput kode bahan (pilihan ada di list)
  3. Memasukan parameter tekanan uap, suhu operasi, waktu masak, volume masakan, volume bibitan, suhu bahan, toleransi pencucian

 

andiks.co.nr


Dextran dalam proses, sweatwater…

February 1, 2011

Dalam pengendalian dextran dalam industri gula untuk hasil yang optimal dilakukan secepat mungkin setelah tebu terperah menjadi nira yaitu pada unit gilingan (mill station). Semakin cepat dextran dikurangi akan mempermudahkan proses pengolahan gula dan kehilangan yang tidak diketahui (undefined lossis) sebagai prestasi kinerja pengolahan dapat ditekan. Dextran diproduksi oleh mikroorganisme S. Mesentroides dengan enzim dextranase dan terbentuk paling banyak pada saat dilahan dan dipercepat adanya luka pada batang tebu atau tebu bakar. Tiap potensi luka pada batang baik sewaktu tebang maupun penanganan di halaman pabrik akan meningkatkan potensi terbukanya kesempatan masuknya bakteri. Jenis bakteri mesentroides ini merupakan penghasil spora dalam perkembangbiakannya, sehingga akan berpotensi spora ini bisa berkembangbiak menjadi bakteri bila kondisi lingkungannya memenuhi. Selama ini konsentrasi pengendalian dextran dilakukan pada awal proses, untuk itu perlu adanya analisa sumber tertentu lainnya yang bisa berpotensi sebagai timbulnya dextran di dalam proses itu sendiri.

Sweatwater disini dinyatakan sebagai larutan gula sebagai hasil penyerapan debu-debu gula (sebagai solute) dalam cerobong (siklon) yang akan keluar ke udara luar (lingkungan) dengan menggunakan media air kondensat proses (sebagai solvent) sebagai akibat proses pengeringan dan pendinginan gula produk. Sweatwater pada umumnya memiliki kadar substrat (brik) yang tidak terlalu tinggi/pekat sehingga berpotensi sebagai tempat berkembangbiaknya mikroorganisme, suhu yang tidak tinggi, dan pH mendekati asam ke netral. Dengan memperhatikan lingkungan sweatwater tersebut potensi mikroorganisme penghasil enzim dextranase untuk berkembangbiak terbuka.

Dalam proses pembuatan gula, aliran sweatwater ini biasanya dicampur dengan leburan gula halus dan kasar hasil saringan gula (vibrating screen) dan dicampur dengan aliran klare SHS baik klare air ataupun klare uap hasil putaran HGF after worker yang selanjutnya dipompa ke bagian masakan sebagai bahan masakan, sebagian kecil untuk pengencer pada scew gula HGF fore worker (magma A). Sweatwater dengan kadar dextran yang minimal perlu dikendalikan terutama bila semakin banyak aliran yang mengandung dextran untuk di recycle kembali sebagai bahan masakan akan berpotensi terjadinya akumulasi dextran di masakan ditambah lagi bila dalam nira kental sendiri mengandung dextran sehingga akan mengganggu produktifitas masakan dan kualitas/mutu gula. Pada umumnya untuk masakan tahap produksi menggunakan bahan dengan kemurnian yang tinggi sehingga dampak adanya dextran mungkin tidak terasa, akan tetapi bila bila pada kondisi dimana bahan baku nira dengan kemurnian yang menurun mungkin bisa diperhatikan.

Sebagai gambaran adanya dextran dalam air siraman gula debu (sweatwater) dapat dilihat pada beberapa pengambilan sampel berikut:

Sample

pH

brix (%)

temperature (oC)

viscosity (cp)

dextran (ppm)

ppm on brix

i

4.3

8.2

33

3.96

3217.106

392,3

ii

3.8

6.5

32

3.42

4152.265

638,8

iii

4.1

6.1

37

3.84

3002.908

492,28

iv

3.1

1.1

34

3.36

767.47

697,7

 
 

Dengan adanya dextran yang ada ini bisa dilakukan upaya untuk meminimalkan antara lain dengan:

  • Menggunakan kondensat proses (panas) sebagai bahan pelarut debu gula
  • Melakukan sanitasi dengan steaming alat penyelesaian
  • Mengendalikan brix sweatwater dengan melakukan batch sirkulasi sampai waktu tertentu baru dikirim sebagai bahan masakan dengan batasan tidak mengganggu proses pada penyerapan debu gula
  • Menggunakan material alat yang memiliki daya oligodinamik.

andiks.co.nr (CMIIW)


opera mini 5 beta

September 20, 2009

Opera mini kini tampil lebih lengkap lagi menunya. Dengan versi terbarunya berlabel opera mini versi 5 beta kita sudah bisa menikmati fasilitas tab dalam membuka halaman internet baru. Fasilitas ini lah yang kita tunggu selama ini meskipun kita harus memfamiliarkan penggunaan fungsi shortcut secara optimal. Pengaturan tab dalam opera mini 5 lebih mudah dengan shortcut. Opera mini 5 beta ini sudah dilengkapi dengan pengeditan kata langsung pada form isian, copy paste seperti yang telah ada pada browser mini saingannya Bolt. Untuk versi 5 beta ini berukuran 330kb pada nokia 6131. Dengan testing pada gatget tersebut anda sudah bisa bloging di wordpress walaupun agak lambat penulisan postingnya. Bagi yang ngebet pingin download opera mini 5 versi beta bisa di http//:mini.opera.com


Ethanol , tebu (Ngayal…. kekuatan untuk maju )

September 15, 2009

Perkembangan industrI yang berorentasikan renewable energi sangat pesat. Hal ini didorong oleh keterbatasan dan ketidakberdayanya energi fosil (minyak bumi, batubara) untuk diperbarui. Energi fosil semakin lama semakin berkurang dan tentunya menjadikan value-nya naik, diikuti dengan produk turunannya bergerak mengiringi. Diperlukan kompetitor produk yang bisa mensubstitusi keberadaan energi fosil tersebut, dengan biaya yang murah dan berkelanjutan (renewable).

Ethanol, selain bisa diproduksi secara sintesis, bisa juga dibuat dengan cara fermentasi menggunakan mikroorganisme. Untuk yang cara fermentasi memerlukan bahan baku yang mengandung glukosa/fruktosa, atau berasal dari bahan yang bisa diuraikan menjadi komponen tersebut (pati, sukrosa, dll). Dengan cara fermentasi memungkinkan bahan baku didapat di alam dan bisa diupayakan pembudidayaannya.
Ethanol di Indonesia secara komersial banyak diproduksi dengan cara fermentasi, baik bahannya dari ketela maupun tetes. Ketela bisa di kembangkan dalam lahan yang kering sekalipun, sehingga tidak menggeser lahan tanaman pokok. Untuk tetes, ketersediaannya bahan ini bergantung dengan kehidupan industri gula maupun industri yang membutuhkan tetes sebagai bahan bakunya (kompetitor) seperti industri penyedap masakan (MSG). Untuk itu perlu adanya tela’ah lebih lanjut penggunaan bahan baku yang tidak bergantung terhadap industri lainnya dan bisa diupayakan ketersediannya sendiri di alam.

Seperti yang telah diketahui , ethanol secara fermentasi memerlukan kandungan glukosa/fruktosa untuk diubah menjadi ethanol dan gas CO2 sebagai produk sampingnya. Glukosa / fruktosa sendiri ada dalam tanaman tebu (brix). Sehingga ethanol dapat diproduksi dari bahan baku tebu secara langsung. Dengan bahan baku tebu, ketersediaannya bisa diupayakan dengan perkebunan. Untuk sekarang ini, pembuatan ethanol dari tebu langsung masih belum berkembang dikarenakan lebih menguntungkan konversi tebu menjadi gula (kebutuhan pokok). Padahal untuk mendapatkan glukosa/fruktosa dari tebu tidak selalu memerlukan potensi tebu yang ber-rendemen tinggi ,walaupun sukrosa sendiri bisa terhidrolisa menjadi glukosa/fruktosa.

Walaupun potensi tebu menjadi gula lebih dominan dibandingkan potensi tebu menjadi ethanol, akan tetapi industri tersebut bisa berdiri saling melengkapi. Industri gula tetap berjalan, sedang indutri ethanol mendampingi dalam satu plant (site / pabrik). Pada saat bahan baku tebu kualitasnya rendah bisa di”switch” untuk diproses untuk industri ethanol sehingga tidak menjadi pengganggu (inert) dalam proses produksi gula (sebagai bahan Bukan Gula) yang harus dikeluarkan. Dengan begitu maka industri gula dan ethanol berdampingan. Apabila ada kelebihan gas CO2 yang dihasilkan industri ethanol dimanfaatkan sebagai pembantu pemurnian dengan sistem karbonatasi maka akan menambah manfaat selain produksi dry ice (CO2 padat) yang mana memberikan turbidity nire encer yang lebih bagus. Selayaknya untuk industri makanan proses karbonatasi dari sumber yang layak. Bila tebu untuk industri gula sudah terpenuhi, sisa tebu di kebun (StOC, Standing Over Cane) dapat dihabiskan sebagai umpan pada industri ethanol. Selama industri gula berasa pada kondisi off session (maintenance), maka industri ethanol bisa terus berproduksi dengan bahan baku tetes dari industri gula tersebut. Sinergi mutualisme.

Ethanol (alkhohol) dengan kadar yang hampir murni (99%) bisa digunakan sebagai campuran dengan gasoline (bensin) menjadi bahan bakar gasohol (gasolin alkhohol). Dalam beberapa penelitain, campuran alkhol dalam bensin sebanyak 5% bisa dimanfaatkan pada kendaraan bermotor (berbahan bakar bensin) tanpa mengubah kontruksi mesin. Dengan 5% tersebut berarti sudah mengurangi ketergantungan kita terhadap energi fosil sebesar 5%, dan menambah lifetime ketersediaan energi fosil 5% mendatang. Apalagi kalau diimplementasikan motor dengan bahan bakar ethanol murni sudah mengurangi ketergantungan kita. Keunggulan bahan bakar ethanol antara lain adalah terbakar secara sempurna menghasilkan CO2 dan air. Memang sekarang belum dilirik industri ethanol, di masa mendatang kita membutuhkan secara terpaksa.

Menjadi suatu tantangan kedepan, terutama perusahaan yang bergerak di bidang bahan baku renewable, yang menguasai tebu, karet, dan sawit. Tebu berpotensi metamorphosis menjadi ethanol disamping industri gula, karet mensubstitusi karet sintetis dari turunan minyak bumi yang semakin mahal, dan sawit mensubstitusi solar dengan biodiesel. Masih tetap berlaku slogan perusahaan energi akan mendominasi industri. Mampukah perkebunan bermetaforsis menjadi industri energi di masa mendatang?

Copyright andiksujatmiko@wordpress.com


Jadi Pemimpin tidak gampang

May 8, 2009

Pimpinan,,
orang mana yang tidak ingin menjadi pimpinan. Orang akan selalu memandang kedudukan jadi pemimpin adalah enak dengan segala fasilitasnya. Bisa mengatur begini dan begitu dengan imbalan yang lebih, baik kedudukan maupun baik penghormatan ataupun baik penghargaan.

Tanpa kita sadari,taukah anda bahwa kita adalah pemimpin?
Dari Ibnu Umar r.a.,ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Setiap kamu adalah pemimpin dan kamu bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin, dia bertanggung jawab terhadap rakyat yang dipimpinnya. Seseorang laki adalah pemimpin bagi keluarganya,dia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin di dalam rumah suaminya, dia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang pelayan adalah pemimpin yang dipimpinnya. Jadi, setiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinya.’ ” (Muttafaq ‘alaih).
Belum puaskah anda jadi pemimpin?
Perlu berhati-hati dalam mencapai suatu jabatan pimpinan. Dari Abu Sa’id Abdurrahman bin Samurah ra., ia berkata, “Rasulullah saw. berkata kepadaku, ‘ Wahai Abdurrahman bin Samurah, jangan pernah meminta diangkat menjadi pemimpin. Karena, jika engkau diangkat menjdi pemimpin tanpa memintanya, maka engkau akan mendapat pertolongan untuk melaksanakannya. Tetapi, jika engkau diangkat menjadi pemimpin karena memintanya, maka engkau akan dibuat susah karenanya. Dan, jika engkau pernah bersumpah, lalu engkau melihat ada yang lebih baik dari sumpahmu itu, maka pilihlah yang lebih baik dan lakukanlah kaffarah untuk menebus sumpahmu.” ( Muttafaq’ alaih)

Nah,, begitu berat jadi pemimpin, kita tidak boleh meminta,gimana kita bisa dipilih? Gimana kalau dalam pemilu di indonesia ini misalkan,orang berlomba-lomba mencalonkan diri jadi caleg dan berkampanye. Trus apakah anda merasa masih bisa jadi pemimpin?

Motivasi memang perlu, bukan berarti berambisi untuk mendapatkan jabatan pimpinan. Dari Abu Musa al-Asy’ari r.a., ia berkata: “Aku menemui Rasulullah saw. bersama dua orang sepupuku. Seorang dari mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, angkatlah kami menjadi pejabat bagi sekian urusan yang dibebankan oleh Allah kepadamu.’ Sepupuku yang satunya juga berkata sama. Rasulullah saw. bersabda, ‘ Demi Allah,sesungguhnya kami tidak akan memberi jabatan kepada siapapun yang memintanya, atau kepada orang yang berambisi mendapatkannya.’ ” (Muttafaq ‘alaih)

Sekali lagi,masih bisakah anda menjadi pemimpin tanpa ambisi mendapatkannya di masa sekarang ini?


Pengaruh adanya dextran pada industri gula

March 30, 2009

Dengan menyadari adanya kerugian- kerugian yang dibawa dextran diharapkan akan lebih peduli terhadap sumber-sumber dextran
(prefentive) dan penangan kuratifnya. Berikut ini akan di coba untuk menguraikan beberapa pengaruh dextran terhadap industri gula.

1. Kehilangan produk
Meningkatkan viskositas sehingga sulit dalam pemisahan (filterability). Hal ini terjadi karena dextran yang memiliki berat molekul tinggi dan bersamaan dengan zat-zat lain yang bersifat tidak larut (insoluble) sehingga akan menyebabkan buntunya saringan (RVF, kehilangan nira berupa pol blotong akan tinggi. Kekentalan (viscousitas) dari bahan selama di Clarifier(Single tray clarifier / STC) akan mengurangi kecepatan pengendapan kotoran sehingga nantinya akan membawa potensi terjadinya kerak (scaling) bila kotoran tidak terendapkan dan terbawa aliran nira jernih. Bila terjadi kerak di unit pemanasan akan dapat mengurangi efisiensi pemanasan (mengurangi laju evaporasi) sehingga berefek pada penggunaan steam pemanas akan lebih. Dengan bahan yang viscous akan menurunkan produktifitas masakan dikarenakan akan memperlama pembesaran kristal (kristal tidak besar-besar) dan susah terpisahkan di puteran sehingga masuk dalam proses recycling sebagai bahan masakan lagi. Semakin banyak bahan proses yang terecycle untuk dimasak kembali akan meningkatkan beban uap yang dibutuhkan untuk memasak.Adanya dextran akan terjadi pemanjangan bentuk kristal gula pada satu arah (B-axis), deformasi kristal menjadi lonjong seperti jarum (neddle-shape crystal) sehingga menyebabkan efisiensi pemisahan gula di puteran turun akibatnya kualitas gula menjadi rendah. Bentuk kristal jadi kurang rata.

2. Kehilangan gula (sukrosa)
Dari penelitian yang mempelajari kehilangan sukrosa karena terurai oleh adanya dextran menunjukan bahwa keberadaan 0,05 % (500 ppm) dextran dalam nira mentah akan menghabiskan 0,2 kg gula/ton gula produk atau 0,02 kg/ton tebu giling. Misalkan kapasitas giling adalah 4500 TCD (inclusif) maka potensi kehilangan sucrosa sebanyak 90 kg gula. Bila masa giling 190 hari maka akan berpotensi kehilangan gula ssebanyak 17,1 ton dalam satu masa giling atau setara Rp 70.110.000 (HPP Rp 4100). Bila dalam nira mentah mengandung 1000 ppm dextran (Robert methode), tinggal melipat gandakan.
Penelitian lebih lanjut terhadap kehilangan sukrosa akibat dextran menunjukan bahwa tiap 300 ppm dextran dalam nira kental akan mengakibatkan kemurnian (HK) tetes meningkat sebesar 1% . Sebagai tambahan, hal ini juga berarti naiknya kemurnian (HK) tetes 1 point akan sama dengan kehilangan 0,454 kg gula / ton tebu giling. Bila sampai terjadi peningkatan HK 1 point akan menimbulkan kerugian setara Rp 8.376.300 / hari

3. Kerugian financial
• Kesalahan pembacaan pol akan mengakibatkan kesalahan pembayaran lebih kepada petani, terutama pada pabrik yang mengolah tebu dari rakyat. Hal ini terjadi karena karakteristik dari dextran yang mampu mempolarisakan hasil analisa polarimeter rata-rata 3 kali lebih tinggi dari pada sukrosa sehingga menimbulkan pembacaan pol yang keliru (pol semu)lebih. Hal ini akan berdampak besar bila pasokan tebu berasal dari petani rakyat (TR).
• Dalam perdagangan raw sugar bisa mengakibatkan penalty produk karena adanya kandungan dextran dalam produk

Hak cipta ada pada andiksujatmiko.wordpress.com


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.