Bermula dari mendaratnya flashlight Nitecore MT1C dari alatselam.com, dengan kelengkapan diluar dugaan. Nitecore MT1C hanya dibekali sebuah tali dan ring karet/spare O-ring (1 buah), tanpa ada perlengkapan user manual, Clip, lanyard, dan spare plastic cap :(. Sungguh sangat disayangkan, flashlight Nitecore MT1C diterima dalam keadaan gelap gulita, tidak ada sampel baterai 😀 dan petunjuk.
Akhirnya dengan becarian di web nitecore, dapatlah user manualnya. Dalam user manual nitecore MT1C perlu dipacu dengan battery Primary Lithium battery CR123 3,0 V dan ditekannkan kalau Rechargeable Lithium battery RCR123 3,7 V dilarang digunakan (banned). Baterai jenis ini sangat jarang ditemui, kecuali di toko kamera, dan itupun berdasar pengalaman tidak semua toko kamera ada. Dari hasil beberapa googling ada pembedaan baterai RC123 dalam 3 macam, yaitu pada voltase 3,0 V; 3,6 V; dan 3,7 V. Dalam beberapa forum disebutkan voltase baterai sangat mempengaruhi life time dari driver flashlight itu sendiri,pemberian voltase yang lebih tinggi dari spec yang disarankan (walau mungkin bisa nyala) akan memperkosa drivernya. Dan disayangkan pada saat itu di alatselam.com belum ada baterai RCR123 3,0 V beserta charger yang cocok dengan voltase 3,0 V (yang ada lebih tinggi untuk 3,7V) :(.
Dan akhirnya lagi harus becarian dengan google ditempat lain untuk dapur pacu Nitecore MT1C. Terimaksih telah mendarat baterai Rechargeable CR123A 3,0V Ultrafire 800 mAh + charger Ultrafire WF-138 Switching Charger 3,0 V atau 3,6 V produkimport.com

Gara-gara Nitecore MT1C vs battery RC123
June 10, 2013Pendekatan perhitungan kebutuhan uap pemanas di vacuum pan
February 3, 2011Ada beberapa macam cara untuk menentukan kebutuhan uap pemanas yang diperlukan dalam masakan (vacuum pan). Antara lain sebagai berikut:
-
Melihat steam rate langsung (bila pabrik sudah otomatis) J
-
Mendekati dengan perhitungan dengan neraca massa dan energy, dan cara ini banyak di uraikan pada beberapa lireratur (hugot dkk)
Karena keterbatasan peralatan, penulis ingin mengetahui kebutuhan uap saat proses kristalisasi di masakan dengan menggunakan metode yang kedua yaitu pendekatan neraca massa dan neraca energy. Adapun pendekatan ini dilakukan dengan berdasar pada:
-
Penyesuaian system masak yang biasa dijalankan, penulis belum mendapatkan literature yang menjelaskan kebutuhan uap secara detail per masakan sehingga perlu didiskusikan hasilnya nantinya.
-
Kesepakatan umum dalam penentuan kemurnian masakan dan penarikan bahan dengan pendekatan :
(Volume bahan x HK bahan)input = (Volume bahan x HK bahan)output/produk
Kesepakatan ini untuk digunakan sebagai proporsi bahan untuk neraca massa nantinya, penulis menerjemahkan
neraca massa = neraca brix
-
Pendekatan Brix terhadap volume (bulletin 11)
-
Neraca massa (brix) dengan kuanta bahan pengisi masakan proporsional berdasar (2)
-
Neraca energy
H + Ek + Ep = Q + Ws
Asumsi Energi kinetic ( Ek), Energi Potensial ( EP), Panas yang mempengaruhi (Q), dan Kerja yang mempengaruhi (Ws) dianggap tidak ada (0)
H = 0
m.pengisi x cp x T + ms x = muap x Hv
Untuk link download excelnnya dapat di cek di sini
Pendekatan ini ditujukan untuk didiskusikan, bila ada yang punya data real operasioanal kebutuhan uap (pada pabrik yang sudah otomatis) bisa sebagai penyempurna lagi.
Readme.txt
-
Pengisian data analisa
Bahan klare SHS (KL SHS), Nira kental (NK), Stroop A (ST A), Stroop C (ST C), Klare D (KL D)
Bibitan magma C (MC), Magma D2 (MD2), Masakan A3 (MAS A3), Masakan A2 (MAS A2), Masakan D3 (MAS D3), Masakan D2 (MAS D2)
Produk masakan A (MAS A), Masakan C (MAS C), Masakan D (MAS D)
-
Pemilihan bibitan, bahan pengisi, dan masakan yang dibuat dengan menginput kode bahan (pilihan ada di list)
-
Memasukan parameter tekanan uap, suhu operasi, waktu masak, volume masakan, volume bibitan, suhu bahan, toleransi pencucian
andiks.co.nr
Dextran dalam proses, sweatwater…
February 1, 2011Dalam pengendalian dextran dalam industri gula untuk hasil yang optimal dilakukan secepat mungkin setelah tebu terperah menjadi nira yaitu pada unit gilingan (mill station). Semakin cepat dextran dikurangi akan mempermudahkan proses pengolahan gula dan kehilangan yang tidak diketahui (undefined lossis) sebagai prestasi kinerja pengolahan dapat ditekan. Dextran diproduksi oleh mikroorganisme S. Mesentroides dengan enzim dextranase dan terbentuk paling banyak pada saat dilahan dan dipercepat adanya luka pada batang tebu atau tebu bakar. Tiap potensi luka pada batang baik sewaktu tebang maupun penanganan di halaman pabrik akan meningkatkan potensi terbukanya kesempatan masuknya bakteri. Jenis bakteri mesentroides ini merupakan penghasil spora dalam perkembangbiakannya, sehingga akan berpotensi spora ini bisa berkembangbiak menjadi bakteri bila kondisi lingkungannya memenuhi. Selama ini konsentrasi pengendalian dextran dilakukan pada awal proses, untuk itu perlu adanya analisa sumber tertentu lainnya yang bisa berpotensi sebagai timbulnya dextran di dalam proses itu sendiri.
Sweatwater disini dinyatakan sebagai larutan gula sebagai hasil penyerapan debu-debu gula (sebagai solute) dalam cerobong (siklon) yang akan keluar ke udara luar (lingkungan) dengan menggunakan media air kondensat proses (sebagai solvent) sebagai akibat proses pengeringan dan pendinginan gula produk. Sweatwater pada umumnya memiliki kadar substrat (brik) yang tidak terlalu tinggi/pekat sehingga berpotensi sebagai tempat berkembangbiaknya mikroorganisme, suhu yang tidak tinggi, dan pH mendekati asam ke netral. Dengan memperhatikan lingkungan sweatwater tersebut potensi mikroorganisme penghasil enzim dextranase untuk berkembangbiak terbuka.
Dalam proses pembuatan gula, aliran sweatwater ini biasanya dicampur dengan leburan gula halus dan kasar hasil saringan gula (vibrating screen) dan dicampur dengan aliran klare SHS baik klare air ataupun klare uap hasil putaran HGF after worker yang selanjutnya dipompa ke bagian masakan sebagai bahan masakan, sebagian kecil untuk pengencer pada scew gula HGF fore worker (magma A). Sweatwater dengan kadar dextran yang minimal perlu dikendalikan terutama bila semakin banyak aliran yang mengandung dextran untuk di recycle kembali sebagai bahan masakan akan berpotensi terjadinya akumulasi dextran di masakan ditambah lagi bila dalam nira kental sendiri mengandung dextran sehingga akan mengganggu produktifitas masakan dan kualitas/mutu gula. Pada umumnya untuk masakan tahap produksi menggunakan bahan dengan kemurnian yang tinggi sehingga dampak adanya dextran mungkin tidak terasa, akan tetapi bila bila pada kondisi dimana bahan baku nira dengan kemurnian yang menurun mungkin bisa diperhatikan.
Sebagai gambaran adanya dextran dalam air siraman gula debu (sweatwater) dapat dilihat pada beberapa pengambilan sampel berikut:
|
Sample |
pH |
brix (%) |
temperature (oC) |
viscosity (cp) |
dextran (ppm) |
ppm on brix |
||
|
i |
4.3 |
8.2 |
33 |
3.96 |
3217.106 |
392,3 |
||
|
ii |
3.8 |
6.5 |
32 |
3.42 |
4152.265 |
638,8 |
||
|
iii |
4.1 |
6.1 |
37 |
3.84 |
3002.908 |
492,28 |
||
|
iv |
3.1 |
1.1 |
34 |
3.36 |
767.47 |
697,7 |
||
Dengan adanya dextran yang ada ini bisa dilakukan upaya untuk meminimalkan antara lain dengan:
- Menggunakan kondensat proses (panas) sebagai bahan pelarut debu gula
- Melakukan sanitasi dengan steaming alat penyelesaian
- Mengendalikan brix sweatwater dengan melakukan batch sirkulasi sampai waktu tertentu baru dikirim sebagai bahan masakan dengan batasan tidak mengganggu proses pada penyerapan debu gula
- Menggunakan material alat yang memiliki daya oligodinamik.
andiks.co.nr (CMIIW)
Uncategorized |
Posted by andik sujatmiko